Sabtu, 02 Juni 2012

Perubahan Keke

Keke, nama teman sekelasku tahun kemarin itu kini sekelas denganku lagi. Ia juga tampak senang, karena sekelas dengan salah satu teman dekatnya, Nida. Setahuku, Nida pintar. Kalau Keke? Pernah aku dimintainya contekan. Beruntung, guru langsung keliling. Setelah itu bel. Maaf, aku tidak bermaksud menggosip. Mungkin saja dia sudah berubah, mungkin. “

Aku kesal, sekelas lagi sama Keke, tukang sontek itu,” ujar teman sebangkuku sambil menatap tajam ke arah Keke. “

Aku tahu kamu suka sebel dimintai sontekan, tapi nggak usah ngomong begitu juga,” saranku. “Mungkin ia akan berubah,” lanjutku. Teman sebangkuku diam saja. 

Ternyata, sifat Keke masih ia pelihara. Saat pelajaran IPS dan Tata Boga tadi, aku melihat ia menyalin jawaban Nida. Sempat kutanya, “Keke, kamu masih menyontek? Eh, maaf ya kalau tersinggung.” Keke pun mengangguk tanpa merasa bersalah. 

Saat pelajaran Tata Boga, dia juga kutanya, “Maaf, Keke kamu nyalin? Menyontek lagi? Ke, aku saranin, kalau ada tugas usahakanlah agar kamu selesaikan sendiri!” Keke malah diam saja sambil terus menyalin. Sebenarnya, aku ingin membicarakan hal ini dengan teman sebangkuku, tetapi sebaiknya aku menahan diri saja. 


“Anak-anak, besok tugas ini dikumpulkan, ya,” pesan Pak Asep, guru TIK kelasku, 8.9. “

"Ya, Pak..,” kata anak-anak. 

Tiba-tiba saja aku terpikir Nida. Apakah ia tidak kesal diconteki terus? 

Bel sudah berbuyi. Sepertinya, Keke sudah ada janji sama temannya. Nida pulang sendiri, deh. Aku menghampirinya, “Nida.. kamu nggak marah kalau Keke menyalin jawaban kamu?” tanyaku tanpa basa-basi. 

Sepertinya, Nida terburu-buru. “Sebenarnya aku kesal. Hmm..., sudahlah aku pulang dulu ya, buru-buru!” katanya memutus pembicaraan. 



Keesokan harinya, aku kembali melihat Keke menyontek tugas TIK milik Nida. “

Kasihan banget Nida, jahat banget sih Keke,” timpal teman sebangkuku. Tampaknya, ia mengetahui bahwa aku sedang memerhatikan Keke. Aku sih diam saja, jangan sampai perkataan temanku tadi menjadi awal sebuah... pembicaraan yang buruk. 

Aku menunggu-nunggu bel masuk berbunyi agar Keke tidak selesai menyonteknya. Namun, bel masih belum terdengar. 

Hei, aku mendengar seseorang berteriak, “SUDAH!” 

Semua menoleh ke sumber suara. Ternyata, Nida yang berteriak. Tak kusangka... mungkin karena... Keke? 

"Keke, cukup! Aku sudah nggak tahan menyampaikan ini. Aku kesal,” teriak Nida dengan nada sedih. Ia memegang LKS TIK. Mungkin, tadi ia merebutnya dari Keke. 

Bel yang berbunyi nyaring seakan memecahkan suasana saat itu. Nida kembali duduk. Perhatian anak-anak tertuju pada Pak Asep yang memang disiplin. Sesudah bel, Pak Asep langsung masuk kelas. Sejenak aku melihat ke arah Keke dan Nida. Sepertinya mereka ‘diam-diaman’.

"Segera kumpulkan LKS kalian! CEPAT! Satu, dua,” ujar Pak Asep mulai menghitung. Aku dan teman-temanku mengumpulkan LKS. Olala, Keke terlihat cemas. Pak Asep yang melihat tugas Keke belum selesai semuanya langsung bertanya. Suasana hening. Yang lain sudah kembali ke bangku masing-masing. Keke berada di hadapan Pak Asep. Belum Keke membuka mulut, Nida malah maju ke meja Pak Asep. Ia berbicara pelan-pelan pada Pak Asep. Lalu Pak Asep ‘membebaskan’ Keke. 


Pada jam istirahat, aku melihat Nida dan Keke menuju ruang guru. Untuk apa, ya?  

Bel berbunyi, istirahat kali ini usai. Oh ya, setelah ini kan pelajaran Matematika. Ada tugas. Hmm... apakah Keke masih menyontek? 

Ternyata tidak. Aku melihat di meja Keke hanya ada satu buku. Aneh... mana mungkin karena marahan dengan Nida, aku melihat mereka sesekali mengobrol dan tersenyum, tuh! Lantas? 

Sepulang sekolah, aku bertanya langsung pada mereka, “maaf nih ganggu. Penasaran... Apa sih yang kamu bilang ke Pak Asep tadi Nid?” Nida dan Keke saling menatap. Lalu Keke mengangguk. 

“Tadi aku bilang, ‘maaf, Pak. Saya akan membicarakan mengapa tugas Keke belum selesai nanti’. Terus waktu istirahat, aku dan Keke menghadap Pak Asep. Tadi Keke dimarahi Pak Asep. Namun, dengan itu Keke menjadi sadar, dan ia akan berubah,” jelas Nida sambil menatap Keke. Ia tersenyum.


7 k○mentar:

putri mimpi mengatakan...

cerpen yg bagus ^.^ ini kisah nyata bukan ya? aku dulu juga sering dimintain contekan, tapi jarang aku kasih, jadinya sering dibilang pelit deh.. biarin aja, yang penting kita ga boleh tolong menolong dalam perbuatan buruk kan.. ^.^

Syifa Aulia☺ mengatakan...

Makasih! Bukaaan... itu cuma cerpen. Itu tindakan yang benar Kak! Walau dibilang pelit biarin aja... Betul-betul... Makasih ya Kak komentarnya.

Anonim mengatakan...

Ini bnran?
ohya, aq ni d, blh mnt no hp? nnt aq jlsin ;wt sms :)

Anonim mengatakan...

Enggak lah... Hehe... Jangan, sebagai anak baik nggak boleh nulis inf pribadi, ini kan comment blogger dan bisa diliat siapa aja. Kasih ke email d aja ya? Email d apa?
kakcipa

DYU >> D mengatakan...

q g punya email kak, hmm,di tempt secret aj. chat box disini dmn ya?

Syifa Aulia☺ mengatakan...

Hehe.. mana ada tempat secret di internet, Yumna?

DYU mengatakan...

haha bener juga! Tapiii...shhtt..tls di cbox adeklucu, lgsg tls no.hpx, ntar klu q dah ctt lgsg dhpus, :)

Posting Komentar

Makasih udah baca :)

Diberdayakan oleh Blogger.